Selasa, 16 September 2014

Kok Harus Berbahasa Inggris di Negeri Sendiri?!


Setiap hari seorang balita, anak tetanggaku selalu bermain di rumahku dengan pengasuhnya. Ayah dan ibunya sudah berangkat kerja dari pagi buta dan kembali ke rumah saat si anak sudah tidur. Dia baru masuk Preschool dua bulan lalu. Akan tetapi aku merasa aneh setiap mendengar pengasuhnya berbicara dengan bahasa Inggris kepada anak itu, sebut saja si Tole. ” Tole, wash your hand ” atau ” Tole, you want apple?” ” Tole, look, cat eating ” dan sebagainya. Akhirnya karena tidak tahan aku tanya kepada mbak pengasuh kenapa dia selalu pakai bahasa Inggris padahal si Tole jelas-jelas anak orang Indonesia tulen, lahir dan tinggal di Indonesia pula apalagi aku dengar beberapa kali tata bahasa maupun lafal bahasa Inggris si mbak pengasuhpun kadang-kadang salah. Si mbak menjawab ” Wong, ayah dan ibunya si Tole maunya gitu , mbak. Preschoolnya juga pake bahasa Inggris, kok. Katanya biar waktu gede bisa gampang sekolah dan dapet kerja ” Gubrak! Ada apa ini??!Memang saat ini ( katanya ) era globalisasi, mungkin bahasa Inggris dianggap penting sekali sebagai bahasa Internasional tapi… apakah perlu mengajarkan bahasa Inggris kepada anak dari si anak baru bisa bicara ? Bahkan si Tole diajarkan memanggil orang tuanya dengan sebutan MOMMY dan DADDY. Aku menulis artikel ini bukan hanya karena kebetulan profesiku pengajar bahasa Indonesia untuk orang asing di Jakarta, tapi aku merasa ini sudah jadi sebuah fenomena terutama di kota besar. Aku pernah mengajar bahasa Indonesia kepada anak Indonesia tulen karena sejak kecil dia tidak pernah berbicara bahasa Indonesia. Dia berbicara bahasa Inggris dengan keluarganya dan di sekolah, sejak TK sampai SMU, para pengajar di sekolahnya mengajar dengan bahasa Inggris. Suatu hari aku juga pernah melihat seorang anak berbicara dengan orang tuanya di sebuah toko buku impor di wilayah Kemang, dengan menggunakan bahasa Inggris. Padahal mereka semua bertampang Jawa .. tulen. Belum lagi para penyiar radio yang lebih banyak memakai bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia waktu siaran. ( Gak semua penyiar sih, tapi pasti ada aja beberapa kalimat bahasa Inggris bercampur dengan bahasa Indonesia ) Padahal itu kan radio untuk orang Indonesia.. stasiun radionya juga di Indonesia??? Akhirnya aku berpikir, kalau hal ini dibiarkan terus menerus ada kemungkinan puluhan tahun mendatang, tidak ada lagi orang yang mau menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Maaf, mungkin bukan tidak mau, tapi TIDAK BISA BAHASA INDONESIA. Padahal bahasa Indonesia masih tergolong ‘muda’. Bangsa kita bersumpah akan menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional tahun 1928. Kalau makin banyak orang tua yang berbicara kepada anak-anak mereka, generasi penerus bangsa ini, dengan bahasa Inggris, berapa lama lagi bahasa Indonesia jadi bahasa nasional? Lantas untuk apa reklame besar di dekat Tugu Tani , Jakarta Pusat dipasang? Di reklame itu tertulis besar-besar ” BAHASA MENUNJUKKAN IDENTITAS BANGSA.” Aku pikir, untuk memasuki ‘era globalisasi’ tidak harus menghilangkan identitas bangsa, kan? Atau mungkin kalau berbahasa Inggris kedengarannya lebih ‘ keren’ dan ‘ berkelas’ ? Gak tahu juga, tapi aku jadi prihatin aja kalau mendengar anak-anak indonesia asli ternyata lebih fasih berbahasa Inggris daripada bahasa negaranya. Masih sekolah di dalam negeri tapi guru-gurunya udah pake bahasa Inggris untuk menjelaskan pelajaran. Bukankah seharusnya sekolah dan guru justru sebagai sarana untuk mendidik generasi bangsa supaya lebih menghargai, mencintai budaya , bahasa, dan negara mereka sendiri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar