Setiap
hari seorang balita, anak tetanggaku selalu bermain di rumahku dengan
pengasuhnya. Ayah dan ibunya sudah berangkat kerja dari pagi buta dan kembali
ke rumah saat si anak sudah tidur. Dia baru masuk Preschool dua bulan lalu.
Akan tetapi aku merasa aneh setiap mendengar pengasuhnya berbicara dengan
bahasa Inggris kepada anak itu, sebut saja si Tole. ” Tole, wash your hand ”
atau ” Tole, you want apple?” ” Tole, look, cat eating ” dan sebagainya.
Akhirnya karena tidak tahan aku tanya kepada mbak pengasuh kenapa dia selalu
pakai bahasa Inggris padahal si Tole jelas-jelas anak orang Indonesia tulen, lahir
dan tinggal di Indonesia pula apalagi aku dengar beberapa kali tata bahasa
maupun lafal bahasa Inggris si mbak pengasuhpun kadang-kadang salah. Si mbak
menjawab ” Wong, ayah dan ibunya si Tole maunya gitu , mbak. Preschoolnya juga
pake bahasa Inggris, kok. Katanya biar waktu gede bisa gampang sekolah dan
dapet kerja ” Gubrak! Ada apa ini??!Memang saat ini ( katanya ) era
globalisasi, mungkin bahasa Inggris dianggap penting sekali sebagai bahasa
Internasional tapi… apakah perlu mengajarkan bahasa Inggris kepada anak dari si
anak baru bisa bicara ? Bahkan si Tole diajarkan memanggil orang tuanya dengan
sebutan MOMMY dan DADDY. Aku menulis artikel ini bukan hanya karena kebetulan
profesiku pengajar bahasa Indonesia untuk orang asing di Jakarta, tapi aku merasa
ini sudah jadi sebuah fenomena terutama di kota besar. Aku pernah mengajar
bahasa Indonesia kepada anak Indonesia tulen karena sejak kecil dia tidak
pernah berbicara bahasa Indonesia. Dia berbicara bahasa Inggris dengan
keluarganya dan di sekolah, sejak TK sampai SMU, para pengajar di sekolahnya
mengajar dengan bahasa Inggris. Suatu hari aku juga pernah melihat seorang anak
berbicara dengan orang tuanya di sebuah toko buku impor di wilayah Kemang,
dengan menggunakan bahasa Inggris. Padahal mereka semua bertampang Jawa ..
tulen. Belum lagi para penyiar radio yang lebih banyak memakai bahasa Inggris
ketimbang bahasa Indonesia waktu siaran. ( Gak semua penyiar sih, tapi pasti
ada aja beberapa kalimat bahasa Inggris bercampur dengan bahasa Indonesia )
Padahal itu kan radio untuk orang Indonesia.. stasiun radionya juga di
Indonesia??? Akhirnya aku berpikir, kalau hal ini dibiarkan terus menerus ada
kemungkinan puluhan tahun mendatang, tidak ada lagi orang yang mau menggunakan
bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Maaf, mungkin bukan tidak mau,
tapi TIDAK BISA BAHASA INDONESIA. Padahal bahasa Indonesia masih tergolong
‘muda’. Bangsa kita bersumpah akan menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa
nasional tahun 1928. Kalau makin banyak orang tua yang berbicara kepada
anak-anak mereka, generasi penerus bangsa ini, dengan bahasa Inggris, berapa
lama lagi bahasa Indonesia jadi bahasa nasional? Lantas untuk apa reklame besar
di dekat Tugu Tani , Jakarta Pusat dipasang? Di reklame itu tertulis
besar-besar ” BAHASA MENUNJUKKAN IDENTITAS BANGSA.” Aku pikir, untuk memasuki
‘era globalisasi’ tidak harus menghilangkan identitas bangsa, kan? Atau mungkin
kalau berbahasa Inggris kedengarannya lebih ‘ keren’ dan ‘ berkelas’ ? Gak tahu
juga, tapi aku jadi prihatin aja kalau mendengar anak-anak indonesia asli
ternyata lebih fasih berbahasa Inggris daripada bahasa negaranya. Masih sekolah
di dalam negeri tapi guru-gurunya udah pake bahasa Inggris untuk menjelaskan
pelajaran. Bukankah seharusnya sekolah dan guru justru sebagai sarana untuk
mendidik generasi bangsa supaya lebih menghargai, mencintai budaya , bahasa,
dan negara mereka sendiri?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar