Kamis, 02 Juli 2020

Kane and Kutsu. Chapter 1 : Pertemuan

" Ada orang mau belajar bahasa Indonesia tapi dia mau lihat CV elo dulu. Kayaknya rada rempong orangnya sih. Elo mau?" satu hari seorang teman nawarin kerjaan buatku. Oh ya, kenalkan ! Aku wanita berusia 40 an, kerja serabutan sebagai guru privat bahasa Indonesia untuk orang asing. Lumayan nyambung kalau ngomong bahasa Jepang dan lumayan masih bisa nyahutin kalau diajak ngomong bahasa Italia. Namaku..? Panggil saya aku Kane.
"Eh,mau dong! Lumayan lah buat jajan. Lagi sepi murid nih" jawabku.
Temanku memberi alamat email calon muridku itu.Begitu dapat aku langsung buka laptopku dan menulis email kepada orang itu. 
Malam harinya si murid rempong itu membalas emailku, tulisnya dalam bahasa Jepang ,"Aku sudah membaca emailmu. Bisa datang ke apartemenku lusa jam 4 sore? Aku mau tes cara mengajarmu dulu." 
 " Oke sampai lusa jam 4 sore. Tolong kasih tahu alamat dan no. Hp juga ya" balasku.

Lusa
"Sore,mba. Saya mau ketemu Mr. T di unit 03 L. Saya Kane , guru bahasa Indonesianya"
Mba mba di meja resepsionis yang lagi sibuk berdandan menatapku dengan muka bete karena cerita serunya dengan pak sekuriti terpaksa terpotong oleh ucapanku.
"Unit berapa tadi? "
" 03 L,mba. "
"Dengan siapa?"
"Saya Kane" 
"Bukan, yang di sana mister atau mistris?" 
"Mau ketemu Bapak T. Saya gurunya" 
"Dah janji sebelumnya?"
"Yaelah mba kalau dia gak nyuruh juga gw gak mau datang kalii" gumamku dalam hati
"Pastinya iya mba"
.... 
"Paak anterin mba ini nih ke lantai 03L" teriak mba resepsionis ke sekuriti yang berdiri di depan pintu kaca sambil memberi kartu akses untuk lift. 
" Lantai berapa , mba? " " 03L, Pak" Pak Sekuriti menekan tombol angka 3 di dalam lift. " Nanti keluar lift belok kiri dan belok kanan ya. Unitnya ada di ujung"

"Haaai " terdengar jawaban dari balik pintu beberapa detik sesudah aku menekan bel. Pintupun terbuka. Terlihat seorang pria berkaus putih polos, bercelana jeans.  Tingginya rata-rata tapi badannya sedikit kurus. Pria berkacamata itu tersenyum kepadaku 
" Hai, douzo- silakan masuk " ...Entah kenapa aku seperti terkesima sejenak melihat senyumnya yang dihiasi lesung pipi dan hanya membungkukkan badanku tanpa menjawabnya.

Dia menutup pintu dan sekali lagi dia pun memperkenalkan dirinya 
" Satou desu, yoroshiku - Saya Sato, salam kenal " katanya
" Hajimemashite, Kane desu " aku pun mengambil kartu nama yang diserahkan kepadaku dan duduk di sofanya. 
Lagi-lagi senyumnya  entah kenapa membuat pipiku terasa memanas. 






Sabtu, 27 Juni 2020

Independent woman

 I don't need a man  to make it.  
 happen.
 I get off being free
 I don't need a man to make me 
 feel good 
 I get off doing my 
 I don't need a ring around my 
 finger
 to make me feel complete

(pussy cat dolls ) 

Sabtu, 20 Juni 2020

Jatuh Cinta Pada Seseorang Yang Tidak Bisa Dimiliki. 持てない男の人に恋をするなら


Jika kamu pernah jatuh cinta pada seseorang yang telah dimiliki oleh orang lain, apakah yang akan kamu lakukan dengan perasaan itu?

他の女の男の人と恋に落ちたことがあるなら、それらの感情をどうしますか?

Didiamkan saja?Diungkapkankah? Atau… dibiarkan saja?

心の中において、ずっと 秘密になるか?告白するか?それとも気にしないようにしていますか?

Jika aku ada dalam posisi yang seperti itu,maka aku akan memilih untuk mendiamkannya saja.Lalu mengungkapkannya cukup di dalam doa.

もし私はその立場にいるなら、心の中で秘密にし、彼のための祈りの中で神様にそれを告白します

Bagiku bahagia yang membahagiakan hati adalah kebahagiaan yang bukan hasil dari mencuri kebahagiaan orang lain.

私にとって幸せというのは、他人の幸せを盗んだ結果ではない幸せです

Jatuh cinta pada seseorang memang sesuatu yang tidak bisa direncanakan.
Bahkan kita tidak bisa memilih pada siapa cinta berkembang.

誰かと恋に落ちることは、計画することはできません。

誰に愛が現れるか選ぶことさえもできません

Itu bisa datang kapan saja tanpa harus lebih dulu meminta ijin.

許可を求めることなく、恋はいつでも来ることができます

Ketika ternyata cinta jatuh di tempat yang tidak seharusnya seperti jatuh cinta pada kekasih orang、 

間違い所、間違い時間、間違い人に恋に落ちたら、恋が落ちたことがわかったら、

Maka aku akan memilih untuk mendiamkannya  dan menitipkan perasaan itu pada Tuhan.

それなら私の気持ちを沈黙させ、その気持ちを神様に委ねることにします。

Perasaan sayang, perasaan cinta  menjadi hal yang tidak bisa dipaksakan.

愛は強制できないものです

Pun, jangan pernah berpikir untuk mencuri kebahagiaan orang lain, demi memenuhi kebahagiaanmu.Terlebih,  hanya untuk urusan cinta.

また、あなたの幸せを満たすために、他人の幸せを盗むことさえ考えないでください。

Percayalah, cinta tidak mengajarkan pemiliknya untuk merusak cinta yang lain .Cinta itu bukan tentang ambisi.

愛は別の愛を壊すことを教えません。愛は野心ではありません。.

Cinta itu baik. Cinta itu suci.Jaga sebaik-baiknya. Sebab cinta yang baik tidak akan pernah jauh dari kasih sayang Tuhan.

愛は良いことです。愛は純粋のことです。大事にしてください。なぜなら、良い愛は決して神様の愛からいつも近いからです。

Jika hari ini kamu jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa dimiliki.

もし今は持つことができない誰かと恋に落ちるなら

Barangkali itu hanya cara Tuhan untuk melihat seberapa besar kesabaranmu.

多分あなたはどのぐらい忍耐力を持っているか、神様の見る方法です。

Ingat, jangan berbahagia di atas air mata dan luka orang lain.

他人の涙や傷に満足してはいけないことを覚えてください

Kamu tidak perlu merasa buruk karena  jatuh hati pada seseorang yang telah dimiliki oleh orang lain .

彼女がいる誰かと恋に落ちるから、気分を害する必要はありません。

Karena memang cinta tidak bisa direncanakan.

愛は計画できないからです。

 Jagalah cinta itu sebagai kekuatanmu, sebagai pengingatmu dan sebagai kebanggaanmu.

その愛を強さ、思いで、そして プライドとして保ちなさい。

Jika kamu mencintainya dengan tulus, kamu akan ikut bahagia melihatnya berbahagia meski bukan dengan dirimu.

彼を心から愛しているなら、きっと彼があなたと一緒でなくても彼が幸せになることができるのを見て幸せになるでしょう

(penakecil.id)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 13 Juni 2020

Panggil Aku Kane. Chapter 1 : Adopsi

Aku hanya wanita biasa. Bukan wanita yang cantik bak model , tidak kaya, tidak juga jenius. Profesiku juga bukan wanita karir. Sampai usiaku 32 tahun aku dibesarkan oleh keluarga yang tidak memiliki keturunan. Aku besar dalam lingkungan elit di Jakarta. Rumahku sangat besar pada saat itu. Orang tuaku punya usaha kuliner dan hidupku selalu dikelilingi orang-orang yang usianya jauh dari usiaku. Aku dibesarkan bagaikan merpati dalam sangkar. Ibuku tidak membebaskan aku bermain bersama teman. Bahkan ibu kurang suka jika ada teman yang datang bermain ke rumahku. Akhirnya aku hanya tumbuh dan besar dengan boneka kertas yang pada saat itu bisa dibeli dengan uang  100 perak.

Mainanku lengkap. Permainan anak perempuan tidak sebanyak permainan anak laki karena orang-orang yang dititipkan ibu untuk menjagaku sebagian besar adalah laki-laki. Mungkin itulah sebabnya di kemudian hari sampai sekarang pun aku selalu merasa tidak nyaman berada di antara banyak orang. Meskipun aku termasuk ramah kepada semua orang tidak mudah bagiku untuk menganggap semua yang aku kenal sebagai teman. Aku lebih nyaman menyendiri.

Ibuku baik tapi dia mempunyai cara sendiri menyayangiku. Dia menyayangiku dengan memberiku fasilitas termasuk pendidikanku. Aku disekolahkan sampai aku mendapat gelar sarjana. Tapi ibuku tidak pernah memberiku pujian saat aku meraih prestasi atau berbuat kebaikan. Bahkan hanya sekedar mengelus rambutku sambil bilang “ Bagus sekali, nak” aahh buatku sepertinya itu hanya ada di film atau novel saja. Jika aku jatuh sakit, ibuku membawaku ke dokter tapi ibu tidak memberiku handuk basah di dahiku yang panas, menyuapi aku bubur atau memberiku obat saat waktu minum obat tiba. Semua dilakukan oleh pembantu yang dibayar oleh ibu untuk menjagaku. “Bukan itu mauku, Bu.”

Mungkin orang luar melihat aku anak satu-satunya yang pasti akan dibanjiri pelukan, ciuman, pujian tapi pada kenyataannya aku merasa kesepian. Aku merasa aku hidup sendiri karena sejak dulu semua aku pikirkan dan putuskan sendiri, usaha sendiri. Jika aku bercerita kepada ibuku dia langsung menghardik “ Ah kamu aja pikir sendiri gimana” Ayahku? Ayahku pria pendiam.. sangat pendiam berbanding terbalik dengan ibuku yang cerewet. Ayahku juga pria yang sepertinya ada di “ dunia” nya sendiri. Tidak peduli aku ada atau tidak ada. Tidak ada pertanyaan “ Bagaimana cerita sekolahmu hari ini “ dari ayah dan ibuku. Semakin dewasa aku melihat aku semakin seperti dianggap “ tidak ada” . Jika aku bersuara , ibuku tidak pernah mau mendengarnya. 

    Sampai satu hari sesudah ayahku meninggal dunia, sepulang aku bekerja ibuku berkata bahwa dia akan menjual rumah dan usahanya. Kuperiksa selembar kertas yang tampaknya seperti surat perjanjian yang ditulis dengan tangan dan kuitansi. Aku terkejut dengan keputusannya menjual rumah besar di kawasan elit dengan harga yang jauh sekali lebih rendah dari yang seharusnya. Namun saat aku menyatakan ketidaksetujuanku karena melihat ibu sudah membubuhkan cap jempol di surat dan kuitansi itu namun kenapa tidak mendiskusikannya lebih dulu kepada aku, anaknya, aku terkejut mendengar jawabannya, “ Kamu siapa? Rumah ini milik mama dan kamu gak berhak sepeserpun dari rumah ini. Kamu selama ini cuma kerja kerja kerja pergi pagi pulang malam “ 

“ Tapi sabtu minggu kan ada di rumah. Mama kenapa gak minta waktu untuk baca dan diskusi dulu. Kenapa harus langsung mengiyakan dan tanda tangan?”

“ Diam aja kamu. Ini rumah mama terserah mama mau bagaimana “  Aku letih sepulang kerja karena aku kerja di sebuah perusahaan dari jam 6 pagi sudah berangkat dan selesai kerja paling cepat jam 8 malam. Tiba di rumah jam 9 atau 10 malam tergantung kondisi  jalan apakah macet atau tidak. Aku hanya menangis menatap angka yang tertulis di kertas itu dan sudah dicap jempol oleh ibuku. Lalu aku melihat ada saksi yang tak lain adalah sepupuku. Sepupu yang menjadi “ keponakan kesayangan “ ibuku. Aku turun ke lantai satu dan mengetuk pintu kamarnya. Suaminya yang membuka pintu kamar. 

    “ Mama kan memang buta huruf dan tidak bisa membaca isi surat perjanjian ini. Kenapa gak kasih tahu mama untuk menunggu dulu, jangan langsung kasih cap jempol? Kasih tahu gak jumlah uang yang ditawarkan untuk membeli rumah ini ? “ protesku. Sepupuku dan suaminya berkelit dan mereka bilang bahwa mereka sudah menjelaskan semua ke ibuku tapi ibuku yang bersikeras tetap akan menjualnya dan membubuhi cap jempolnya tanpa menungguku pulang karena ingin rumah bisa segera terjual.Aku masih berdebat saat ibuku tiba-tiba muncul dari belakangku namun lagi- lagi reaksi ibuku membuatku kecewa. Ibuku justru membela keponakan dan suaminya dibanding membela dan mendengarkan penjelasanku. Hatiku hancur saat itu. Tiba-tiba aku merasa …. Sangat sangat kesepian. Aku ternyata “ tidak ada” buat mereka di sini. Aku memilih diam dan masuk ke kamarku. Kukunci kamar, telinga kututup dengan headphone . Kupasang musik keras-keras dan air mataku mulai mengalir. “ Apa maksud mama dengan ‘ kamu bukan siapa-siapa?’ . Kenapa mama mengucapkan itu beberapa kali kepada aku belakangan ini ?”   “ Usiaku sudah 32 tahun bukan anak-anak lagi kenapa suaraku dari dulu tidak pernah didengar? Apa yang aku lakukan tidak pernah dihargai dan dipuji? “  Kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuat air mataku mengalir deras.

                Aku sudah mencoba bertanya ke beberapa orang yang kupikir mengerti tentang hokum jual beli rumah dan aku tidak mendapatkan jawaban memuaskan karena surat perjanjian sudah terlanjur disetujui oleh pemilik rumah, ibuku, di atas materai dan itu secara hukum sudah sah. Apalagi namaku sama sekali tidak tercantum meskipun sebagai saksi.  Akhirnya rumah itu pun terbeli. Pembelinya adalah sepasang suami istri kaya raya , anak dari mantan pejabat di era presiden kedua RI.

                Malam itu semua keluarga dari ibuku yang terdiri dari para keponakannya berkumpul di ruang tamu di lantai dua. Malam itu ibu mengumumkan bahwa rumah sudah terjual dan akan membagi uang hibah kepada keponakan-keponakannya. Saat itulah aku baru mendapatkan jawaban dari pertanyaanku belakangan ini tentang ucapan ibuku itu. .. Ternyata aku bukan anak kandung ibu. 


Selasa, 16 September 2014

Kok Harus Berbahasa Inggris di Negeri Sendiri?!


Setiap hari seorang balita, anak tetanggaku selalu bermain di rumahku dengan pengasuhnya. Ayah dan ibunya sudah berangkat kerja dari pagi buta dan kembali ke rumah saat si anak sudah tidur. Dia baru masuk Preschool dua bulan lalu. Akan tetapi aku merasa aneh setiap mendengar pengasuhnya berbicara dengan bahasa Inggris kepada anak itu, sebut saja si Tole. ” Tole, wash your hand ” atau ” Tole, you want apple?” ” Tole, look, cat eating ” dan sebagainya. Akhirnya karena tidak tahan aku tanya kepada mbak pengasuh kenapa dia selalu pakai bahasa Inggris padahal si Tole jelas-jelas anak orang Indonesia tulen, lahir dan tinggal di Indonesia pula apalagi aku dengar beberapa kali tata bahasa maupun lafal bahasa Inggris si mbak pengasuhpun kadang-kadang salah. Si mbak menjawab ” Wong, ayah dan ibunya si Tole maunya gitu , mbak. Preschoolnya juga pake bahasa Inggris, kok. Katanya biar waktu gede bisa gampang sekolah dan dapet kerja ” Gubrak! Ada apa ini??!Memang saat ini ( katanya ) era globalisasi, mungkin bahasa Inggris dianggap penting sekali sebagai bahasa Internasional tapi… apakah perlu mengajarkan bahasa Inggris kepada anak dari si anak baru bisa bicara ? Bahkan si Tole diajarkan memanggil orang tuanya dengan sebutan MOMMY dan DADDY. Aku menulis artikel ini bukan hanya karena kebetulan profesiku pengajar bahasa Indonesia untuk orang asing di Jakarta, tapi aku merasa ini sudah jadi sebuah fenomena terutama di kota besar. Aku pernah mengajar bahasa Indonesia kepada anak Indonesia tulen karena sejak kecil dia tidak pernah berbicara bahasa Indonesia. Dia berbicara bahasa Inggris dengan keluarganya dan di sekolah, sejak TK sampai SMU, para pengajar di sekolahnya mengajar dengan bahasa Inggris. Suatu hari aku juga pernah melihat seorang anak berbicara dengan orang tuanya di sebuah toko buku impor di wilayah Kemang, dengan menggunakan bahasa Inggris. Padahal mereka semua bertampang Jawa .. tulen. Belum lagi para penyiar radio yang lebih banyak memakai bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia waktu siaran. ( Gak semua penyiar sih, tapi pasti ada aja beberapa kalimat bahasa Inggris bercampur dengan bahasa Indonesia ) Padahal itu kan radio untuk orang Indonesia.. stasiun radionya juga di Indonesia??? Akhirnya aku berpikir, kalau hal ini dibiarkan terus menerus ada kemungkinan puluhan tahun mendatang, tidak ada lagi orang yang mau menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Maaf, mungkin bukan tidak mau, tapi TIDAK BISA BAHASA INDONESIA. Padahal bahasa Indonesia masih tergolong ‘muda’. Bangsa kita bersumpah akan menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional tahun 1928. Kalau makin banyak orang tua yang berbicara kepada anak-anak mereka, generasi penerus bangsa ini, dengan bahasa Inggris, berapa lama lagi bahasa Indonesia jadi bahasa nasional? Lantas untuk apa reklame besar di dekat Tugu Tani , Jakarta Pusat dipasang? Di reklame itu tertulis besar-besar ” BAHASA MENUNJUKKAN IDENTITAS BANGSA.” Aku pikir, untuk memasuki ‘era globalisasi’ tidak harus menghilangkan identitas bangsa, kan? Atau mungkin kalau berbahasa Inggris kedengarannya lebih ‘ keren’ dan ‘ berkelas’ ? Gak tahu juga, tapi aku jadi prihatin aja kalau mendengar anak-anak indonesia asli ternyata lebih fasih berbahasa Inggris daripada bahasa negaranya. Masih sekolah di dalam negeri tapi guru-gurunya udah pake bahasa Inggris untuk menjelaskan pelajaran. Bukankah seharusnya sekolah dan guru justru sebagai sarana untuk mendidik generasi bangsa supaya lebih menghargai, mencintai budaya , bahasa, dan negara mereka sendiri?

Cerita Pendek dari Kolong Jembatan Tol





Hari Minggu siang lalu, tanggal 25 Juli 2011, aku diajak oleh seorang teman dari komunitas pencinta satwa untuk ikut pada acara HAPPY ENGLISH: “ Sahabat Satwa” bersama anak-anak yang tinggal di pemukiman kumuh, di wilayah Rawa Bebek, Jembatan Tiga, Jakarta Barat.

Jam 9.30, temanku sudah menjemputku di depan jembatan merah, Manggarai karena kebetulan pada hari itu aku sedang “mengungsi” di rumah teman kecilku di Jl. Dr. Saharjo. Perjalanan cukup jauh, memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Perjalanan kami cukup lancar sampai kami keluar di pintu keluar tol Jembatan Tiga tapi setelah itu kami sedikit kesulitan menemukan lokasi jembatan yang dimaksud di kawasan Rawa Bebek. Popi, anjing yang sengaja dibawa temanku untuk meramaikan acara tampak sudah mulai mengantuk , kelelahan dan kepanasan di dalam mobil tanpa AC. Cari punya cari, akhirnya kami berhasil menemukan lokasinya. Astaga! Sungguh tidak pernah kubayangkan sebelumnya seperti apa rupa lokasi anak-anak miskin itu. Sulit digambarkan dengan kata-kata betapa menyedihkannya kondisi tempat tinggal mereka. Atap beton dari jembatan yang tidak begitu tinggi menambah pengap udara di “ kelas “ kami. Belum lagi sampah yang tersebar di sana sini. Lantai “ kelas” pun hanya berupa tanah becek.
Aku datang sambil menuntun Popi dan temanku sudah jalan lebih dulu di depan mencari pimpinan komunitas Planet Satwa, Mba Agil. Beberapa anak menoleh ke arahku dan ..” Eh, ada anjing!” mereka berseru dan berlari menghampiri. Tetapi begitu dekat, mereka berhenti dan tidak berani menyentuh Popi. Dua tiga anak berjongkok mengamati Popi tapi segera mundur ketika Popi mendekati mereka. “ Ayo, berdiri di sini dekat kakak.. gak galak kok anjingnya.. coba pegang punggungnya pelan2” kataku kepada seorang anak perempuan yang sedari tadi berdiri di dekatku. Dia awalnya ragu2 menuruti perintahku , tapi begitu dia berhasil menyentuh punggung Popi, tampak ada rasa percaya diri dan keberanian yang membuat dia mulai mengelus2 Popi tidak hanya punggungnya lagi tapi kepalanya. Anak-anak lain yang melihat, mulai ikut2an mengelus Popi seperti anak itu. Popi pun akhirnya menjadi “ bintang” di antara mereka.
Kemudian giliran satwa reptil yang mengisi pertujukan Sahabat Satwa. Mba Agil pun mengeluarkan beberapa “ anak “nya dari dalam toples kaca. Aku mengambil “ si Hijau” dan memanggil anak2 yang dari tadi mengikutiku untuk mencoba menyentuhnya seperti mereka menyentuh Popi. Waah, untuk kali ini , mereka bukannya datang menghampiriku tapi justru berpencar dan berlari menuju ibu mereka masing-masing :D Ibu mereka pun tak kalah panik. Akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk mengubah rencana. Kami tidak bisa memaksa mereka untuk menyentuh si ular hijau yang sebenarnya imut , loh. Kami mencoba membuat “pertunjukan” kecil di depan mereka. Mas Imenk mengambil seekor ular cicak yang besarnya sekelingking anak kecil. Kami memperagakan pertolongan pertama untuk korban gigitan ular tidak berbisa. “ Ihh .. ihh “ beberapa kali kata ini yang terlontar dari mulut para ibu ketika melihat si ular cicak mengigiti jari mas Imenk. “ Gak sakit, ade2..ular ini ular yang tidak berbisa jadi tidak berbahaya”  “ Masa?! Itu , kok berdarah?” celetuk seorang anak perempuan yang rambutnya dikepang dua. “ Iya, berdarah tapi gak mematikan. Nah, sekarang kakak akan kasih tahu cara membersihkan dan mengobati lukanya “ kataku menjelaskan. Kami dari kelompok planet satwa juga mempertunjukkan cara menangkap ular yang terjebak masuk ke dalam rumah tanpa harus membunuh ataupun menyakiti ular itu. Giliran para bapak yang antusias memperhatikan simulasi penangkapan ular. “ Lah, mbak. Kalau karungnya ndak ada , piye?”  “ Bapak bisa pake sprei tempat tidur untuk menghalangi tubuh bapak dari patukan atau semburan bisa ular.. sementara yang orang yang berada di belakang ular mencoba menutup kepala ular denganhanduk. Yang penting mata si ular tertutup, jadi lebih mudah untuk memegang kepala ular. Bapak harus segera pegang dan menahan rahangnya ya pak, sambil memasukkan ular ke dalam karung atau  sarung bantal “  Tak ada komentar karena mereka ‘sibuk’ memperhatikan gerakan2 ular model peragaan kami.
apek, itu jelas. Panas.. sudah pasti, apalagi dengan jumlah orang yang hadir begitu banyak, berdesak2an di bawah kolong jembatan yang sempit. Langit2 jembatan pun sangat rendah. Aku dan teman2 semakin kucel dan bermandi keringat. Aku memang tidak mendapatkan bayaran sedikit pun dari acara semacam ini , tapi entah kenapa, justru mengikuti acara-acara semacam ini mendatangkan suatu kebahagiaan tersendiri ke dalam hatiku. Aku bahagia melihat senyum anak2 kolong jembatan itu, aku bersemangat mendengar anak-anak banyak bertanya selama acara berlangsung. Keingintahuan mereka sangat tinggi.Klimaks dari kebahagiaanku yang tidak dapat kugambarkan dengan kata2 adalah saat kami harus pulang karena acara sudah selesai. Anak-anak yang semula takut untuk mendekati bahkan menyentuh Popi dan Pluto, anjing temanku, mereka mulai mengelus kedua anjing itu. Awalnya mereka mendekati perlahan2, mengelur bagian punggungnya, menyentuh ekornya dan akhirnya mengelus kepala Popi dan Pluto. Padahal Pluto adalah anjing jenis Pitbull hitam yang berhati “ Rinto “
( Biasanya Pitbull dijadikan sebagai fighting dog oleh manusia2 yang tidak berperikehewanan. ) Bahkan anak-anak itu mengantarkan Popi dan Pluto sampai ke dalam mobil kami dan melambai2kan tangan mereka saat mobil kami meninggalkan lokasi  “ Dadah, Popiiiii.. Dadah Plutooo “ suara nyaring mereka terdengar dan membuat aku terharu.. Semoga generasi Indonesia di masa mendatang menjadi generasi yang lebih memiliki “ hati “ dan kepedulian tinggi terhadap satwa maupun alam. Karena seseorang yang mempunyai kepedulian dan kasih yang tinggi terhadap alam dan satwa biasanya adalah orang2 yang juga peka terhadap sesama ( manusia )
  • Terima kasih kepada mba Agil dari Planet Satwa dan mba Ratna yang tidak bosan-bosannya mengajak saya untuk selalu berpartisipasi dalam acara2 “amal ilmu” seperti ini