Blackswan's stories
Blog about my stories about life,traveling,food and so on
Kamis, 02 Juli 2020
Kane and Kutsu. Chapter 1 : Pertemuan
Sabtu, 27 Juni 2020
Independent woman
Sabtu, 20 Juni 2020
Jatuh Cinta Pada Seseorang Yang Tidak Bisa Dimiliki. 持てない男の人に恋をするなら
Jika kamu pernah jatuh cinta pada seseorang yang telah dimiliki oleh orang lain, apakah yang akan kamu lakukan dengan perasaan itu?
他の女の男の人と恋に落ちたことがあるなら、それらの感情をどうしますか?
Didiamkan saja?Diungkapkankah? Atau… dibiarkan saja?
心の中において、ずっと 秘密になるか?告白するか?それとも気にしないようにしていますか?
Jika aku ada dalam posisi yang seperti itu,maka aku akan memilih untuk mendiamkannya saja.Lalu mengungkapkannya cukup di dalam doa.
もし私はその立場にいるなら、心の中で秘密にし、彼のための祈りの中で神様にそれを告白します
Bagiku bahagia yang membahagiakan hati adalah kebahagiaan yang bukan hasil dari mencuri kebahagiaan orang lain.
私にとって幸せというのは、他人の幸せを盗んだ結果ではない幸せです
Jatuh cinta pada seseorang memang sesuatu yang tidak bisa direncanakan.
Bahkan kita tidak bisa memilih pada siapa cinta berkembang.
誰かと恋に落ちることは、計画することはできません。
誰に愛が現れるか選ぶことさえもできません
Itu bisa datang kapan saja tanpa harus lebih dulu meminta ijin.
許可を求めることなく、恋はいつでも来ることができます
Ketika ternyata cinta jatuh di tempat yang tidak seharusnya seperti jatuh cinta pada kekasih orang、
間違い所、間違い時間、間違い人に恋に落ちたら、恋が落ちたことがわかったら、
Maka aku akan memilih untuk mendiamkannya dan menitipkan perasaan itu pada Tuhan.
それなら私の気持ちを沈黙させ、その気持ちを神様に委ねることにします。
Perasaan sayang, perasaan cinta menjadi hal yang tidak bisa dipaksakan.
愛は強制できないものです
Pun, jangan pernah berpikir untuk mencuri kebahagiaan orang lain, demi memenuhi kebahagiaanmu.Terlebih, hanya untuk urusan cinta.
また、あなたの幸せを満たすために、他人の幸せを盗むことさえ考えないでください。
Percayalah, cinta tidak mengajarkan pemiliknya untuk merusak cinta yang lain .Cinta itu bukan tentang ambisi.
愛は別の愛を壊すことを教えません。愛は野心ではありません。.
Cinta itu baik. Cinta itu suci.Jaga sebaik-baiknya. Sebab cinta yang baik tidak akan pernah jauh dari kasih sayang Tuhan.
愛は良いことです。愛は純粋のことです。大事にしてください。なぜなら、良い愛は決して神様の愛からいつも近いからです。
Jika hari ini kamu jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa dimiliki.
もし今は持つことができない誰かと恋に落ちるなら
Barangkali itu hanya cara Tuhan untuk melihat seberapa besar kesabaranmu.
多分あなたはどのぐらい忍耐力を持っているか、神様の見る方法です。
Ingat, jangan berbahagia di atas air mata dan luka orang lain.
他人の涙や傷に満足してはいけないことを覚えてください
Kamu tidak perlu merasa buruk karena jatuh hati pada seseorang yang telah dimiliki oleh orang lain .
彼女がいる誰かと恋に落ちるから、気分を害する必要はありません。
Karena memang cinta tidak bisa direncanakan.
愛は計画できないからです。
Jagalah cinta itu sebagai kekuatanmu, sebagai pengingatmu dan sebagai kebanggaanmu.
その愛を強さ、思いで、そして プライドとして保ちなさい。
Jika kamu mencintainya dengan tulus, kamu akan ikut bahagia melihatnya berbahagia meski bukan dengan dirimu.
彼を心から愛しているなら、きっと彼があなたと一緒でなくても彼が幸せになることができるのを見て幸せになるでしょう
(penakecil.id)
Sabtu, 13 Juni 2020
Panggil Aku Kane. Chapter 1 : Adopsi
Ibuku
baik tapi dia mempunyai cara sendiri menyayangiku. Dia menyayangiku dengan
memberiku fasilitas termasuk pendidikanku. Aku disekolahkan sampai aku mendapat
gelar sarjana. Tapi ibuku tidak pernah memberiku pujian saat aku meraih
prestasi atau berbuat kebaikan. Bahkan hanya sekedar mengelus rambutku sambil
bilang “ Bagus sekali, nak” aahh buatku sepertinya itu hanya ada di film atau novel
saja. Jika aku jatuh sakit, ibuku membawaku ke dokter tapi ibu tidak memberiku
handuk basah di dahiku yang panas, menyuapi aku bubur atau memberiku obat saat
waktu minum obat tiba. Semua dilakukan oleh pembantu yang dibayar oleh ibu
untuk menjagaku. “Bukan itu mauku, Bu.”
Mungkin orang luar melihat aku anak satu-satunya yang pasti
akan dibanjiri pelukan, ciuman, pujian tapi pada kenyataannya aku merasa
kesepian. Aku merasa aku hidup sendiri karena sejak dulu semua aku pikirkan dan
putuskan sendiri, usaha sendiri. Jika aku bercerita kepada ibuku dia langsung
menghardik “ Ah kamu aja pikir sendiri gimana” Ayahku? Ayahku pria pendiam..
sangat pendiam berbanding terbalik dengan ibuku yang cerewet. Ayahku juga pria
yang sepertinya ada di “ dunia” nya sendiri. Tidak peduli aku ada atau tidak
ada. Tidak ada pertanyaan “ Bagaimana cerita sekolahmu hari ini “ dari ayah dan
ibuku. Semakin dewasa aku melihat aku semakin seperti dianggap “ tidak ada” .
Jika aku bersuara , ibuku tidak pernah mau mendengarnya.
Sampai
satu hari sesudah ayahku meninggal dunia, sepulang aku bekerja ibuku berkata
bahwa dia akan menjual rumah dan usahanya. Kuperiksa selembar kertas yang
tampaknya seperti surat perjanjian yang ditulis dengan tangan dan kuitansi. Aku
terkejut dengan keputusannya menjual rumah besar di kawasan elit dengan harga
yang jauh sekali lebih rendah dari yang seharusnya. Namun saat aku menyatakan
ketidaksetujuanku karena melihat ibu sudah membubuhkan cap jempol di surat dan
kuitansi itu namun kenapa tidak mendiskusikannya lebih dulu kepada aku,
anaknya, aku terkejut mendengar jawabannya, “ Kamu siapa? Rumah ini milik mama
dan kamu gak berhak sepeserpun dari rumah ini. Kamu selama ini cuma kerja kerja
kerja pergi pagi pulang malam “
“ Tapi sabtu minggu kan ada di rumah. Mama kenapa gak minta
waktu untuk baca dan diskusi dulu. Kenapa harus langsung mengiyakan dan tanda
tangan?”
“ Diam aja kamu. Ini rumah mama terserah mama mau bagaimana
“ Aku letih sepulang kerja karena aku
kerja di sebuah perusahaan dari jam 6 pagi sudah berangkat dan selesai kerja
paling cepat jam 8 malam. Tiba di rumah jam 9 atau 10 malam tergantung
kondisi jalan apakah macet atau tidak.
Aku hanya menangis menatap angka yang tertulis di kertas itu dan sudah dicap
jempol oleh ibuku. Lalu aku melihat ada saksi yang tak lain adalah sepupuku.
Sepupu yang menjadi “ keponakan kesayangan “ ibuku. Aku turun ke lantai satu
dan mengetuk pintu kamarnya. Suaminya yang membuka pintu kamar.
“
Mama kan memang buta huruf dan tidak bisa membaca isi surat perjanjian ini.
Kenapa gak kasih tahu mama untuk menunggu dulu, jangan langsung kasih cap
jempol? Kasih tahu gak jumlah uang yang ditawarkan untuk membeli rumah ini ? “
protesku. Sepupuku dan suaminya berkelit dan mereka bilang bahwa mereka sudah
menjelaskan semua ke ibuku tapi ibuku yang bersikeras tetap akan menjualnya dan
membubuhi cap jempolnya tanpa menungguku pulang karena ingin rumah bisa segera
terjual.Aku masih berdebat saat ibuku tiba-tiba muncul dari belakangku namun
lagi- lagi reaksi ibuku membuatku kecewa. Ibuku justru membela keponakan dan
suaminya dibanding membela dan mendengarkan penjelasanku. Hatiku hancur saat
itu. Tiba-tiba aku merasa …. Sangat sangat kesepian. Aku ternyata “ tidak ada”
buat mereka di sini. Aku memilih diam dan masuk ke kamarku. Kukunci kamar,
telinga kututup dengan headphone . Kupasang musik keras-keras dan air mataku
mulai mengalir. “ Apa maksud mama dengan ‘ kamu bukan siapa-siapa?’ . Kenapa
mama mengucapkan itu beberapa kali kepada aku belakangan ini ?” “ Usiaku sudah 32 tahun bukan anak-anak lagi
kenapa suaraku dari dulu tidak pernah didengar? Apa yang aku lakukan tidak
pernah dihargai dan dipuji? “ Kepalaku
penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuat air mataku mengalir
deras.
Aku sudah mencoba bertanya ke
beberapa orang yang kupikir mengerti tentang hokum jual beli rumah dan aku
tidak mendapatkan jawaban memuaskan karena surat perjanjian sudah terlanjur
disetujui oleh pemilik rumah, ibuku, di atas materai dan itu secara hukum sudah
sah. Apalagi namaku sama sekali tidak tercantum meskipun sebagai saksi. Akhirnya rumah itu pun terbeli. Pembelinya
adalah sepasang suami istri kaya raya , anak dari mantan pejabat di era
presiden kedua RI.
Malam itu semua keluarga dari
ibuku yang terdiri dari para keponakannya berkumpul di ruang tamu di lantai
dua. Malam itu ibu mengumumkan bahwa rumah sudah terjual dan akan membagi uang
hibah kepada keponakan-keponakannya. Saat itulah aku baru mendapatkan jawaban
dari pertanyaanku belakangan ini tentang ucapan ibuku itu. .. Ternyata aku
bukan anak kandung ibu.
Selasa, 16 September 2014
Kok Harus Berbahasa Inggris di Negeri Sendiri?!
Cerita Pendek dari Kolong Jembatan Tol
Hari Minggu siang lalu, tanggal 25 Juli 2011, aku diajak oleh seorang teman dari komunitas pencinta satwa untuk ikut pada acara HAPPY ENGLISH: “ Sahabat Satwa” bersama anak-anak yang tinggal di pemukiman kumuh, di wilayah Rawa Bebek, Jembatan Tiga, Jakarta Barat.
Jam 9.30, temanku sudah menjemputku di depan jembatan merah, Manggarai karena kebetulan pada hari itu aku sedang “mengungsi” di rumah teman kecilku di Jl. Dr. Saharjo. Perjalanan cukup jauh, memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Perjalanan kami cukup lancar sampai kami keluar di pintu keluar tol Jembatan Tiga tapi setelah itu kami sedikit kesulitan menemukan lokasi jembatan yang dimaksud di kawasan Rawa Bebek. Popi, anjing yang sengaja dibawa temanku untuk meramaikan acara tampak sudah mulai mengantuk , kelelahan dan kepanasan di dalam mobil tanpa AC. Cari punya cari, akhirnya kami berhasil menemukan lokasinya. Astaga! Sungguh tidak pernah kubayangkan sebelumnya seperti apa rupa lokasi anak-anak miskin itu. Sulit digambarkan dengan kata-kata betapa menyedihkannya kondisi tempat tinggal mereka. Atap beton dari jembatan yang tidak begitu tinggi menambah pengap udara di “ kelas “ kami. Belum lagi sampah yang tersebar di sana sini. Lantai “ kelas” pun hanya berupa tanah becek.
Aku datang sambil menuntun Popi dan temanku sudah jalan lebih dulu di depan mencari pimpinan komunitas Planet Satwa, Mba Agil. Beberapa anak menoleh ke arahku dan ..” Eh, ada anjing!” mereka berseru dan berlari menghampiri. Tetapi begitu dekat, mereka berhenti dan tidak berani menyentuh Popi. Dua tiga anak berjongkok mengamati Popi tapi segera mundur ketika Popi mendekati mereka. “ Ayo, berdiri di sini dekat kakak.. gak galak kok anjingnya.. coba pegang punggungnya pelan2” kataku kepada seorang anak perempuan yang sedari tadi berdiri di dekatku. Dia awalnya ragu2 menuruti perintahku , tapi begitu dia berhasil menyentuh punggung Popi, tampak ada rasa percaya diri dan keberanian yang membuat dia mulai mengelus2 Popi tidak hanya punggungnya lagi tapi kepalanya. Anak-anak lain yang melihat, mulai ikut2an mengelus Popi seperti anak itu. Popi pun akhirnya menjadi “ bintang” di antara mereka.
Kemudian giliran satwa reptil yang mengisi pertujukan Sahabat Satwa. Mba Agil pun mengeluarkan beberapa “ anak “nya dari dalam toples kaca. Aku mengambil “ si Hijau” dan memanggil anak2 yang dari tadi mengikutiku untuk mencoba menyentuhnya seperti mereka menyentuh Popi. Waah, untuk kali ini , mereka bukannya datang menghampiriku tapi justru berpencar dan berlari menuju ibu mereka masing-masing :D Ibu mereka pun tak kalah panik. Akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk mengubah rencana. Kami tidak bisa memaksa mereka untuk menyentuh si ular hijau yang sebenarnya imut , loh. Kami mencoba membuat “pertunjukan” kecil di depan mereka. Mas Imenk mengambil seekor ular cicak yang besarnya sekelingking anak kecil. Kami memperagakan pertolongan pertama untuk korban gigitan ular tidak berbisa. “ Ihh .. ihh “ beberapa kali kata ini yang terlontar dari mulut para ibu ketika melihat si ular cicak mengigiti jari mas Imenk. “ Gak sakit, ade2..ular ini ular yang tidak berbisa jadi tidak berbahaya” “ Masa?! Itu , kok berdarah?” celetuk seorang anak perempuan yang rambutnya dikepang dua. “ Iya, berdarah tapi gak mematikan. Nah, sekarang kakak akan kasih tahu cara membersihkan dan mengobati lukanya “ kataku menjelaskan. Kami dari kelompok planet satwa juga mempertunjukkan cara menangkap ular yang terjebak masuk ke dalam rumah tanpa harus membunuh ataupun menyakiti ular itu. Giliran para bapak yang antusias memperhatikan simulasi penangkapan ular. “ Lah, mbak. Kalau karungnya ndak ada , piye?” “ Bapak bisa pake sprei tempat tidur untuk menghalangi tubuh bapak dari patukan atau semburan bisa ular.. sementara yang orang yang berada di belakang ular mencoba menutup kepala ular denganhanduk. Yang penting mata si ular tertutup, jadi lebih mudah untuk memegang kepala ular. Bapak harus segera pegang dan menahan rahangnya ya pak, sambil memasukkan ular ke dalam karung atau sarung bantal “ Tak ada komentar karena mereka ‘sibuk’ memperhatikan gerakan2 ular model peragaan kami.
- Terima
kasih kepada mba Agil dari Planet Satwa dan mba Ratna yang tidak
bosan-bosannya mengajak saya untuk selalu berpartisipasi dalam acara2
“amal ilmu” seperti ini



