Ibuku
baik tapi dia mempunyai cara sendiri menyayangiku. Dia menyayangiku dengan
memberiku fasilitas termasuk pendidikanku. Aku disekolahkan sampai aku mendapat
gelar sarjana. Tapi ibuku tidak pernah memberiku pujian saat aku meraih
prestasi atau berbuat kebaikan. Bahkan hanya sekedar mengelus rambutku sambil
bilang “ Bagus sekali, nak” aahh buatku sepertinya itu hanya ada di film atau novel
saja. Jika aku jatuh sakit, ibuku membawaku ke dokter tapi ibu tidak memberiku
handuk basah di dahiku yang panas, menyuapi aku bubur atau memberiku obat saat
waktu minum obat tiba. Semua dilakukan oleh pembantu yang dibayar oleh ibu
untuk menjagaku. “Bukan itu mauku, Bu.”
Mungkin orang luar melihat aku anak satu-satunya yang pasti
akan dibanjiri pelukan, ciuman, pujian tapi pada kenyataannya aku merasa
kesepian. Aku merasa aku hidup sendiri karena sejak dulu semua aku pikirkan dan
putuskan sendiri, usaha sendiri. Jika aku bercerita kepada ibuku dia langsung
menghardik “ Ah kamu aja pikir sendiri gimana” Ayahku? Ayahku pria pendiam..
sangat pendiam berbanding terbalik dengan ibuku yang cerewet. Ayahku juga pria
yang sepertinya ada di “ dunia” nya sendiri. Tidak peduli aku ada atau tidak
ada. Tidak ada pertanyaan “ Bagaimana cerita sekolahmu hari ini “ dari ayah dan
ibuku. Semakin dewasa aku melihat aku semakin seperti dianggap “ tidak ada” .
Jika aku bersuara , ibuku tidak pernah mau mendengarnya.
Sampai
satu hari sesudah ayahku meninggal dunia, sepulang aku bekerja ibuku berkata
bahwa dia akan menjual rumah dan usahanya. Kuperiksa selembar kertas yang
tampaknya seperti surat perjanjian yang ditulis dengan tangan dan kuitansi. Aku
terkejut dengan keputusannya menjual rumah besar di kawasan elit dengan harga
yang jauh sekali lebih rendah dari yang seharusnya. Namun saat aku menyatakan
ketidaksetujuanku karena melihat ibu sudah membubuhkan cap jempol di surat dan
kuitansi itu namun kenapa tidak mendiskusikannya lebih dulu kepada aku,
anaknya, aku terkejut mendengar jawabannya, “ Kamu siapa? Rumah ini milik mama
dan kamu gak berhak sepeserpun dari rumah ini. Kamu selama ini cuma kerja kerja
kerja pergi pagi pulang malam “
“ Tapi sabtu minggu kan ada di rumah. Mama kenapa gak minta
waktu untuk baca dan diskusi dulu. Kenapa harus langsung mengiyakan dan tanda
tangan?”
“ Diam aja kamu. Ini rumah mama terserah mama mau bagaimana
“ Aku letih sepulang kerja karena aku
kerja di sebuah perusahaan dari jam 6 pagi sudah berangkat dan selesai kerja
paling cepat jam 8 malam. Tiba di rumah jam 9 atau 10 malam tergantung
kondisi jalan apakah macet atau tidak.
Aku hanya menangis menatap angka yang tertulis di kertas itu dan sudah dicap
jempol oleh ibuku. Lalu aku melihat ada saksi yang tak lain adalah sepupuku.
Sepupu yang menjadi “ keponakan kesayangan “ ibuku. Aku turun ke lantai satu
dan mengetuk pintu kamarnya. Suaminya yang membuka pintu kamar.
“
Mama kan memang buta huruf dan tidak bisa membaca isi surat perjanjian ini.
Kenapa gak kasih tahu mama untuk menunggu dulu, jangan langsung kasih cap
jempol? Kasih tahu gak jumlah uang yang ditawarkan untuk membeli rumah ini ? “
protesku. Sepupuku dan suaminya berkelit dan mereka bilang bahwa mereka sudah
menjelaskan semua ke ibuku tapi ibuku yang bersikeras tetap akan menjualnya dan
membubuhi cap jempolnya tanpa menungguku pulang karena ingin rumah bisa segera
terjual.Aku masih berdebat saat ibuku tiba-tiba muncul dari belakangku namun
lagi- lagi reaksi ibuku membuatku kecewa. Ibuku justru membela keponakan dan
suaminya dibanding membela dan mendengarkan penjelasanku. Hatiku hancur saat
itu. Tiba-tiba aku merasa …. Sangat sangat kesepian. Aku ternyata “ tidak ada”
buat mereka di sini. Aku memilih diam dan masuk ke kamarku. Kukunci kamar,
telinga kututup dengan headphone . Kupasang musik keras-keras dan air mataku
mulai mengalir. “ Apa maksud mama dengan ‘ kamu bukan siapa-siapa?’ . Kenapa
mama mengucapkan itu beberapa kali kepada aku belakangan ini ?” “ Usiaku sudah 32 tahun bukan anak-anak lagi
kenapa suaraku dari dulu tidak pernah didengar? Apa yang aku lakukan tidak
pernah dihargai dan dipuji? “ Kepalaku
penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuat air mataku mengalir
deras.
Aku sudah mencoba bertanya ke
beberapa orang yang kupikir mengerti tentang hokum jual beli rumah dan aku
tidak mendapatkan jawaban memuaskan karena surat perjanjian sudah terlanjur
disetujui oleh pemilik rumah, ibuku, di atas materai dan itu secara hukum sudah
sah. Apalagi namaku sama sekali tidak tercantum meskipun sebagai saksi. Akhirnya rumah itu pun terbeli. Pembelinya
adalah sepasang suami istri kaya raya , anak dari mantan pejabat di era
presiden kedua RI.
Malam itu semua keluarga dari
ibuku yang terdiri dari para keponakannya berkumpul di ruang tamu di lantai
dua. Malam itu ibu mengumumkan bahwa rumah sudah terjual dan akan membagi uang
hibah kepada keponakan-keponakannya. Saat itulah aku baru mendapatkan jawaban
dari pertanyaanku belakangan ini tentang ucapan ibuku itu. .. Ternyata aku
bukan anak kandung ibu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar