Sabtu, 13 Juni 2020

Panggil Aku Kane. Chapter 1 : Adopsi

Aku hanya wanita biasa. Bukan wanita yang cantik bak model , tidak kaya, tidak juga jenius. Profesiku juga bukan wanita karir. Sampai usiaku 32 tahun aku dibesarkan oleh keluarga yang tidak memiliki keturunan. Aku besar dalam lingkungan elit di Jakarta. Rumahku sangat besar pada saat itu. Orang tuaku punya usaha kuliner dan hidupku selalu dikelilingi orang-orang yang usianya jauh dari usiaku. Aku dibesarkan bagaikan merpati dalam sangkar. Ibuku tidak membebaskan aku bermain bersama teman. Bahkan ibu kurang suka jika ada teman yang datang bermain ke rumahku. Akhirnya aku hanya tumbuh dan besar dengan boneka kertas yang pada saat itu bisa dibeli dengan uang  100 perak.

Mainanku lengkap. Permainan anak perempuan tidak sebanyak permainan anak laki karena orang-orang yang dititipkan ibu untuk menjagaku sebagian besar adalah laki-laki. Mungkin itulah sebabnya di kemudian hari sampai sekarang pun aku selalu merasa tidak nyaman berada di antara banyak orang. Meskipun aku termasuk ramah kepada semua orang tidak mudah bagiku untuk menganggap semua yang aku kenal sebagai teman. Aku lebih nyaman menyendiri.

Ibuku baik tapi dia mempunyai cara sendiri menyayangiku. Dia menyayangiku dengan memberiku fasilitas termasuk pendidikanku. Aku disekolahkan sampai aku mendapat gelar sarjana. Tapi ibuku tidak pernah memberiku pujian saat aku meraih prestasi atau berbuat kebaikan. Bahkan hanya sekedar mengelus rambutku sambil bilang “ Bagus sekali, nak” aahh buatku sepertinya itu hanya ada di film atau novel saja. Jika aku jatuh sakit, ibuku membawaku ke dokter tapi ibu tidak memberiku handuk basah di dahiku yang panas, menyuapi aku bubur atau memberiku obat saat waktu minum obat tiba. Semua dilakukan oleh pembantu yang dibayar oleh ibu untuk menjagaku. “Bukan itu mauku, Bu.”

Mungkin orang luar melihat aku anak satu-satunya yang pasti akan dibanjiri pelukan, ciuman, pujian tapi pada kenyataannya aku merasa kesepian. Aku merasa aku hidup sendiri karena sejak dulu semua aku pikirkan dan putuskan sendiri, usaha sendiri. Jika aku bercerita kepada ibuku dia langsung menghardik “ Ah kamu aja pikir sendiri gimana” Ayahku? Ayahku pria pendiam.. sangat pendiam berbanding terbalik dengan ibuku yang cerewet. Ayahku juga pria yang sepertinya ada di “ dunia” nya sendiri. Tidak peduli aku ada atau tidak ada. Tidak ada pertanyaan “ Bagaimana cerita sekolahmu hari ini “ dari ayah dan ibuku. Semakin dewasa aku melihat aku semakin seperti dianggap “ tidak ada” . Jika aku bersuara , ibuku tidak pernah mau mendengarnya. 

    Sampai satu hari sesudah ayahku meninggal dunia, sepulang aku bekerja ibuku berkata bahwa dia akan menjual rumah dan usahanya. Kuperiksa selembar kertas yang tampaknya seperti surat perjanjian yang ditulis dengan tangan dan kuitansi. Aku terkejut dengan keputusannya menjual rumah besar di kawasan elit dengan harga yang jauh sekali lebih rendah dari yang seharusnya. Namun saat aku menyatakan ketidaksetujuanku karena melihat ibu sudah membubuhkan cap jempol di surat dan kuitansi itu namun kenapa tidak mendiskusikannya lebih dulu kepada aku, anaknya, aku terkejut mendengar jawabannya, “ Kamu siapa? Rumah ini milik mama dan kamu gak berhak sepeserpun dari rumah ini. Kamu selama ini cuma kerja kerja kerja pergi pagi pulang malam “ 

“ Tapi sabtu minggu kan ada di rumah. Mama kenapa gak minta waktu untuk baca dan diskusi dulu. Kenapa harus langsung mengiyakan dan tanda tangan?”

“ Diam aja kamu. Ini rumah mama terserah mama mau bagaimana “  Aku letih sepulang kerja karena aku kerja di sebuah perusahaan dari jam 6 pagi sudah berangkat dan selesai kerja paling cepat jam 8 malam. Tiba di rumah jam 9 atau 10 malam tergantung kondisi  jalan apakah macet atau tidak. Aku hanya menangis menatap angka yang tertulis di kertas itu dan sudah dicap jempol oleh ibuku. Lalu aku melihat ada saksi yang tak lain adalah sepupuku. Sepupu yang menjadi “ keponakan kesayangan “ ibuku. Aku turun ke lantai satu dan mengetuk pintu kamarnya. Suaminya yang membuka pintu kamar. 

    “ Mama kan memang buta huruf dan tidak bisa membaca isi surat perjanjian ini. Kenapa gak kasih tahu mama untuk menunggu dulu, jangan langsung kasih cap jempol? Kasih tahu gak jumlah uang yang ditawarkan untuk membeli rumah ini ? “ protesku. Sepupuku dan suaminya berkelit dan mereka bilang bahwa mereka sudah menjelaskan semua ke ibuku tapi ibuku yang bersikeras tetap akan menjualnya dan membubuhi cap jempolnya tanpa menungguku pulang karena ingin rumah bisa segera terjual.Aku masih berdebat saat ibuku tiba-tiba muncul dari belakangku namun lagi- lagi reaksi ibuku membuatku kecewa. Ibuku justru membela keponakan dan suaminya dibanding membela dan mendengarkan penjelasanku. Hatiku hancur saat itu. Tiba-tiba aku merasa …. Sangat sangat kesepian. Aku ternyata “ tidak ada” buat mereka di sini. Aku memilih diam dan masuk ke kamarku. Kukunci kamar, telinga kututup dengan headphone . Kupasang musik keras-keras dan air mataku mulai mengalir. “ Apa maksud mama dengan ‘ kamu bukan siapa-siapa?’ . Kenapa mama mengucapkan itu beberapa kali kepada aku belakangan ini ?”   “ Usiaku sudah 32 tahun bukan anak-anak lagi kenapa suaraku dari dulu tidak pernah didengar? Apa yang aku lakukan tidak pernah dihargai dan dipuji? “  Kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuat air mataku mengalir deras.

                Aku sudah mencoba bertanya ke beberapa orang yang kupikir mengerti tentang hokum jual beli rumah dan aku tidak mendapatkan jawaban memuaskan karena surat perjanjian sudah terlanjur disetujui oleh pemilik rumah, ibuku, di atas materai dan itu secara hukum sudah sah. Apalagi namaku sama sekali tidak tercantum meskipun sebagai saksi.  Akhirnya rumah itu pun terbeli. Pembelinya adalah sepasang suami istri kaya raya , anak dari mantan pejabat di era presiden kedua RI.

                Malam itu semua keluarga dari ibuku yang terdiri dari para keponakannya berkumpul di ruang tamu di lantai dua. Malam itu ibu mengumumkan bahwa rumah sudah terjual dan akan membagi uang hibah kepada keponakan-keponakannya. Saat itulah aku baru mendapatkan jawaban dari pertanyaanku belakangan ini tentang ucapan ibuku itu. .. Ternyata aku bukan anak kandung ibu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar